TUTORIAL CARA RESET PRINTER CANON IP1980 LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA

TUTORIAL CARA RESET PRINTER CANON IP1980 LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA Bagi Anda yang mempunyai printer Canon IP 1980, mungkin suatu saat akan mengalami pinter yang Anda pakai tidak bisa langsung mencetak dokumen, lampu indikator berkelap-kelip dan muncul pesan “The ink absorber is almost full”. Solusi sementara yang mungkin Anda lakukan adalah menekan tombol RESUME seperti yang diperintahkan dalam pesan tersebut. Untuk sementara Anda bisa mencetak dokumen, tetapi kejadian ini terus berulang dan bahkan mungkin sampai printer tersebut hanya menampilkan lampu indikator yang nge-blink saja, tidak bisa ngeprint sama sekali. Kondisi tersebut sebenarnya umum terjadi pada printer inkjet. Pada printer tersebut terdapat tempat pembuangan tinta atau biasa disebut waste ink tank, didalam tempat pembuangan ini terdapat bahan semacam busa (ink absorber) untuk menyerap tinta buangan dari Catridge, misalnya ketika printer melakukan proses cleaning head. Untuk mencegah melube...

KEBERAGAMAN BUDAYA DI PROVINSI YOGYAKARTA LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA

KEBERAGAMAN BUDAYA DI PROVINSI YOGYAKARTA
LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA
 

A.   SEJARAH PROVINSI YOGYAKARTA

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756.

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu, sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.  Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.

 

B.   CIRI KHAS PROVINSI YOGYAKARTA

1.    RUMAH ADAT

a)    RUMAH ADAT JOGLO

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rumah adat tradisional yang disebut dengan "Rumah Adat Joglo".  Bagian-Bagian Rumah Joglo :

·         Pendopo (Pendapa)

Pendopo atau pendapa merupakan bangunan tembahan yang letaknya ada di bagian paling depan dari rumah Joglo.

Umumnya, pendopo digunakan untuk menerima tamu, acara formal, pertunjukan seni, hingga upacara adat.Hal ini berfungsi untuk menciptakan kesetaraan antara tamu dan pemilik rumah.

·         Paringgitan

Pringgitan merupakan menghubung antara pendopo dengan rumah utama.Selain sebagai iorong penghubung, pringgitan juga berfungsi sebagai tampat ringgit atau tempat bermain wayang

·         Omah

Bagian inti dari rumah Joglo adalah “omah”. Omah digunakan sebagai tempat tinggal sang pemilik rumah.

Bagian ini memiliki lantai persegi yang luas dan lebih tinggi dari bagian lainnya. Selain itu, atap omah umumnya berbentuk limasan.

·         Dalem Agung

Dalem Agung merupakan bagian di dalam omah yang terbagi menjadi beberapa   bagian  dan memiliki penutup. Bagian ini biasanya digunakan untuk urusan khusus sang pemilik rumah, Adjarian.


·         Senthong

Senthong merupakan ruangan-ruangan yang berada di bagian belakang dalem agung. Ruangan-ruangan ini digunakan untuk beristirahat sang pemilik rumah dan menyimpan beberapa barang berharga, mislanya hasil panen atau keris.

·         Gandhok

Gandhok merupakan ruangan yang terletak bagian paling belakang rumah, Adjarian. Ruangan ini biasanya digunakan untuk tempat memasak dan juga kamar mandi.  Lokasinya yang berada di bagian belakang berfungsi supaya orang lain tidak melihat  sang  pemilik rumah sedang membersihkan diri atau makan.

 

b)    RUMAH ADAT  BANGSAL KENCONO

Bangsal Kencana) adalah bangsal utama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangsal  ini berbentuk joglo atau pendopo, dikelilingi halaman yang ditumbuhi oleh tanaman, dan sangkar burung. Di depan Bangsal Kencono terdapat dua patung batu Dwarapala, dua raksasa yang memegang gada (sejenis alat pemukul).  

2.    BAHASA

Bahasa Jawa merupakan bahasa lokal yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa. Salah satu wilayah di Pulau Jawa yang menggunakan Bahasa Jawa adalah Kota Yogyakarta yang merupakan bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

3.    SUKU BANGSA DAN AGAMA

a)    Suku Bangsa : Jawa, Sunda Parahiyangan, Melayu, Cina, Batak (Tapanuli),  Minang Kabau, Bali, Madura, dan Lain-lain.

b)    Agama : Islam : 111.084.990 Jiwa,  Kristen Protestan : 92.097 Jiwa, Kristen Katholik : 162.806 Jiwa, Budha : 5.387 Jiwa, Hindu : 5.798 Jiwa.


4.    ALAT MUSIK

a)    KRUMPYUNG

Krumpyunng adalah Langgam Jawa, Uyon-uyon, dan Campursari. Selain itu, Krumpyung juga dimainkann pada hari kemerdekaan Indonesia, sebagai penyambutan tamu-tamu yang berkunjung dari Istana Negara. Untuk memainkan Krumpyung adalah dengan dipukul.

b)    GEJONG LESUNG

Gejog Lesung Yogyakarta adalah kesenian tradisional berupa permainan instrumen musik perkusi menggunakan alat penumbuk padi tradisional (lesung dan alu/antan) yang berkembang dalam masyarakat agraris di berbagai kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang meliputi Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Sleman.Gejog Lesung dimainkan oleh 4-5 orang atau lebih tergantung besar lesung yang digunakan. Secara bergantian mereka memukuli lesung dengan alu/antan pada bagian atas, samping, tengah, atau tepat pada bagian cekungan sedemikian rupa sehingga menimbulkan suara "thok thek thok thek" bersahut-sahutan yang berirama unik sekaligus indah.


c)    GONG KECIL (KEMPUL)

Kempul merupakan salah satu perangkat gamelan yang ditabuh, biasanya digantung menjadi satu perangkat dengan Gong. Kempul termasuk bagian dari kelompok instrumen keras dari gamelan.Kempul memiliki bentuk mirip dengan gong tetapi lebih kecil.

Kempul menghasilkan suara yang lebih tinggi daripada Gong, sedangkan yang lebih kecil akan menghasilkan suara yang lebih tinggi lagi.

d)    GAMBANG

Gambang adalah alat musik tradisional yang terdiri dari 18 bilah bambu  yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini digunakan dalam kesenian gambang kromong Betawi.


e)    SLENTHEM

Slenthem merupakan salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron, ricik, dan balungan bila ditabuh. Beberapa kalangan menamakannya sebagai gender penembung.

f)     GENDANG

Gendang adalah instrumen dalam gamelan yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendhang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendhang ciblon/kebar.

g)    RINDING GUMBENG

Rinding Gumbeng adalah salah satu kesenian tradisional khas Gunungkidul dari daerah Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kesenian ini menjadi cermin kehidupan masyarakat Gunungkidul yang dikenal sederhana, ulet, serta dekat dengan alam.

5.    SENJATA TRADISIONAL

a)    WEDHUNG

Wedhung adalah sebuah senjata tradisional Yogyakarta yang berbentuk pisau dapur besar. Menurut keterangan dari beberapa sumber, sejak dulu hingga sekarang wedhung merupakan senjata ampilan (resmi) bagi para abdi dalem keraton yang berpangkat lurah ke atas (baik laki-laki maupun perempuan) dan para pejabat keraton.

b)    TOMBAK

Tombak adalah senjata tradisional Yogyakarta yang berguna sebagai alat penusuk pada saat terjadi peperangan atau perburuan. Senjata ini merupakan salah satu senjata yang sudah dikenal baik oleh mayoritas masyarakat Jawa sebagai senjata yang bertuah. Dalam bahasa Jawa, tombak dikenal dengan sebutan waos.


c)    PATREM

Patrem adalah suatu senjata tradisional Yogyakarta yang memiliki bentuk seperti keris tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Pada zaman dahulu, senjata ini digunakan oleh para pejuang wanita dengan menyelipkannya di pinggang.

d)    Keris

Keris adalah sebuah senjata tradisional Yogyakarta yang memiliki ciri khas. Ketika digunakan harus menarik bilah dari wrangkanya terlebih dahulu. Senjata Keris digunakan untuk menikam lawan dalam pertempuran jarak dekat.

e)    CONDROSO

Condroso adalah senjata tradisional Yogyakarta yang berbentuk mirip seperti hiasan sanggul pada rambut. Senjata ini masuk ke dalam jenis senjata tikam yang akan digunakan ketika musuh dalam kondisi yang lengah. Menurut beberapa sumber yang didapat, senjata tersebut pada zaman dahulu banyak digunakan oleh para pejuang wanita yang memiliki tugas sebagai telik sandhi (mata-mata).

f)     BANDHIL

Bandhil adalah senjata tradisional Jogja yang berguna dalam pertempuran jarak jauh sebagai peluru lempar. Senjata ini terbuar dari bahan batu, besi, maupun benda-benda yang sangat keras lainnya. Pada zaman dahulu, bandhil merupakan senjata wajib rakyat yang digunakan untuk melawan penjajah Hindia Belanda.

g)    TAMENG

Tameng adalah sebuah senjata tradisional Jogja yang pada umumnya digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan. Senjata ini oleh para prajurit pada zaman dahulu dikenakan ketika berangkat berperang ataupun juga ketika sedang melaksanakan tugas sehari-hari, baik itu ronda, keliling, maupun jaga regol.


6.    UPACARA ADAT

a)    UPACARA SEKATEN

Upacara Sekaten merupakan sebuah tradisi yang diperuntukkan untuk merayakan hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW dan biasa diadakan setiap tanggal 5 bulan Rabiul Awal tahun hijriah (bulan Jawa mulud) di alun-alun utara Yogyakarta dan Surakarta.

Awal mulanya, Sekaten diadakan oleh Pendiri Keraton Yogyakarta, yaitu Sultan Hamengkubuwono 1 untuk mengundang masyarakat Jogja untuk mengikuti dan memeluk agama Islam. Upacara ini dimulai saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem keraton bersama dengan lantunan musik dari dua set Gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu.

b)    UPACARA GEREBEG MULUDAN

Setelah berakhirnya Upacara Sekaten, masyarakat Yogyakarta langsung melaksanakan Upacara Grebeg Muludan pada tanggal 12 bulan mulud atau 12 Rabiul Awal. Upacara ini diadakan sebagai wujud syukur atas kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan.

Dalam prosesi upacara ini, Anda juga akan melihat iring-iringan abdi dalem keraton yang membawa gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, buah-buahan, hingga sayur-sayuran. Nantinya, gunungan tersebut akan dibawa dari Istana Kemandungan menuju ke Masjid Agung.


c)    UPACARA TUMPAK WAJIK

Upacara Tumpak Wajik dilaksanakan terlebih dulu di halaman Magangan Kraton Yogyakarta pada pukul 04.00 sore. Acara ini menandai dimulainya proses pembuatan gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat.

Pada saat prosesi Tumplak Wajik berlangsung, sejumlah abdi dalem turut mengiringi dengan suara tetabuhan dari lesung, alat tradisional yang biasa digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Begitu prosesi Tumplak Wajik selesai, barulah Upacara Grebeg Muludan bisa dilaksanakan pada hari berikutnya.

d)    UPACARA SIRAMAN PUSAKA

Upacara Siraman Pusaka Kraton merupakan tradisi untuk memandikan setiap pusaka milik Ngarsa Dalem atau milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Biasanya, upacara ini dilaksanakan selama dua hari pada bulan Sura dan bersifat tertutup. Dengan kata lain, upacara adat khas Yogyakarta ini tidak bisa disaksikan masyarakat umum.

Pusaka yang dibersihkan pun bermacam-macam, mulai dari tombak, keris, pedang, kereta, ampilan, dan masih banyak lagi. Bagi Kraton Yogyakarta, pusaka paling penting adalah tombak K.K Ageng Plered, Keris K.K Ageng Sengkelat, dan Kereta Kuda Nyai Jimat.


e)    UPACARA LABUHAN

Upacara Labuhan merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan oleh raja-raja di Keraton Yogyakarta dan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang.

Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan meminta keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan masyarakat serta Kraton Yogyakarta sendiri. Selain itu, Upacara Labuhan juga dilaksanakan di empat lokasi yang berbeda, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan. Dan upacara adat ini juga dilakukan setiap delapan tahun sekali.

f)     UPACARA NGURAS ENCEH

Upacara Nguras Enceh menjadi upacara adat khas Yogyakarta yang sayang untuk dilewatkan. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Sura dalam kalender jawa dan diikuti oleh abdi dalem Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dan dilaksanakan bertepatan dengan hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.

Tujuan dari upacara adat ini adalah untuk membersihkan diri dari hati yang kotor. Upacara ini diawali dengan membersihkan empat gentong di makam para Raja Jawa di daerah Imogiri, Bantul, Jawa Tengah. Empat gentong tersebut diantaranya adalah Nyai Siyem dari Siam, Kyai Mendung dari Turi, Kyai Danumaya yang berasal dari Aceh, dan Nyai Danumurti dari Palembang.

Air dari keempat gentong tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menghilangkan kemalangan bagi siapa saja yang mengikuti Upacara Nguras Enceh itu.

g)    UPACARA SAPARAN

Upacara Saparan atau disebut juga Bekakak ini diadakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman setiap hari Jumat di bulan Sapar.

Upacara adat ini dilaksanakan dengan penyembelihan Bekakak, yang artinya korban penyembelihan hewan atau manusia. Namun untuk upacara adat ini hanya menggunakan tiruan manusia saja, yaitu sepasang boneka pengantin jawa yang terbuat dari tepung ketan.

h)   UPACARA REBO PUNGKASAN WONOKROMO PLERET

Upacara Rebo Pungkasan adalah upacara adat yang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat di desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Diberi nama Rebo Pungkasan karena dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar.

Upacara Rebo Pungkasan ini bertujuan untuk mengungkap rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME). Dahulu, upacara ini dilaksanakan di depan masjid dan seminggu sebelum acara sudah banyak diadakan acara meriah, seperti pasar malam.


i)     UPACARA ADAT PEMBUKAAN CUPU PONJOLO

Upacara Adat Pembukaan Cupu Ponjolo ini diadakan setiap Pasaran Kliwon di penghujung musim kemarau pada bulan Ruwah berdasarkan kalender Jawa. Orang-orang di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY masih melaksanakan upacara adat ini sampai sekarang.

Cupu Ponjolo diketahui adalah tiga buah cupu keramat yang disimpan dalam kotak kayu berukuran 20 x 10 x 7 cm dan dibungkus menggunakan ratusan lembar kain mori.

7.    TARIAN DAERAH

a)    TARI KLANA ALUS

Tari Klana Alus adalah tarian yang berkembang di keraton. Tarian ini diambil dari tokoh Prabu Dasalengkara dalam wayang wong lakon Abimanyu Palakrama yang sedang sedang jatuh cinta pada seorang bernama Dewi Siti Sendari.


b)    TARI GOLEK MENAK

Tari Golek Menak atau yang disebut juga Beksa Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tarian ini membutuhkan waktu yang panjang untuk disempurnakan. Tarian ini diciptakan berdasarkan ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak pada tahun 1941, maka timbullah ide untuk mementaskan tarian itu.




Selesai.
Demikianlah  KEBERAGAMAN BUDAYA DI PROVINSI YOGYAKARTA LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA. Semoga bermanfaat

Komentar