BIOGRAFI KH ABDUR ROZAK FACHRUDIN
(1971-1985)
Pak
AR demikian nama panggilan akrab Kiai Haji Abdur Rozak Fachruddin,
adalah pemegang rekor paling lama memimpin Muhammadiyah, yaitu selama 22
tahun (1968-1990). Pak AR lahir 14 Februari 1916 di Cilangkap, Purwanggan,
Pakualaman, Yogyakarta. Ayahnya, K.H. Fachruddin adalah seorang Lurah Naib atau
Penghulu di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII,
berasal dari Bleberan, Brosot, Galur, Kulonprogo. Sementara ibunya adalah
Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman.
Pada
tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standaard
School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta. Setelah ayahnya tidak menjadi
Penghulu dan usahanya dagang batik juga jatuh, maka ia pulang ke desanya di
Bleberan, Galur, Kulonprogo. Pada tahun 1925, ia pindah ke sekolah Standaard
School (Sekolah Dasar) Muhammadiyah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta.
Setamat dari Standaard School Kotagede tahun 1928, ia masuk ke
Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Baru belajar dua tahun di
Muallimin, ayahnya memanggilnya untuk pulang ke Bleberan, dan belajar
kepada beberapa kiai di sana, seperti ayahnya sendiri, K.H. Abdullah Rosad, dan
K.H. Abu Amar. Sehabis Mahgrib sampai pukul 21.00, ia juga belajar di Madrasah
Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.
Setelah
ayahnya meninggal di Bleberan dalam usia 72 tahun (1930), pada tahun 1932 A.R.
Fachruddin masuk belajar di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti,
Sewugalur. Selanjutnya, pada tahun 1935 A.R. Fachruddin melanjutkan sekolahnya
ke Madrasah Tablighschool (Madrasah Muballighin) Muhammadiyah kelas Tiga.
Pada
tahun 1935, A.R.Fachruddin dikirim (dibenum) oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah
ke Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) dengan tugas mengembangkan gerakan
dakwah Muhammadiyah. Di sana, ia mendirikan Sekolah Wustha Muallimin
Muhammadiyah, setingkat SMP. Pada tahun 1938, ia juga mengembangkan hal yang
sama di Ulak Paceh, Sekayu, Musi Ilir (sekarang Kabupaten Musi Banyu Asin).
Pada tahun 1941, ia pindah ke Sungai Batang, Sungai Gerong, Palembang sebagai
pengajar HIS (Hollandcse Inlanders School) Muhammadiyah, setingkat dengan SD.
Pada
tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerbu pabrik minyak Sungai Gerong. Dengan
sendirinya sekolah tempat mengajarnya ditutup. Kemudian A.R. Fachruddin
dipindahkan ke Tebing Grinting, Muara Meranjat, Palembang sampai tahun 1944.
Selama bertugas itu Pak AR mengajar di sekolah Muhammadiyah serta memimpin
dan melatih HW, memberi Pengajian dan sebagainya
Ketika
kembali Yogyakarta, ke desanya Bleberan, Kulon Progo (tahun 1944), A.R.
Fachruddin terus aktif berdakwah dalam Muhammadiyah. Ketika pada tahun 1950
pindah ke Kauman Yogyakarta, A.R. Fachruddin tetap aktif sambil terus belajar
kepada para assabiqunal awwalun Muhammadiyah, seperti K.H.
Syudjak, KHA. Badawi, KRH. Hadjid, K.H. Muchtar, Ki Bagus Hadikusumo, K.H.
Djohar, K.H. Muslim, K.H. Hanad, K.H. Bakir Saleh, K.H Basyir Mahfudz, Ibu Hj.
Badilah Zuber dan sebagainya.
Keterlibatan
A.R. Fachruddin di pusat Muhammadiyah mengantarkan beliau menjadi Ketua
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, kemudian menjadi Ketua Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah DIY, selanjutnya menjadi anggota Dzawil Qurba Pimpinan
Pusat Muhammadiyah, sampai akhirnya dipercaya memimpin Muhammadiyah selama
kira-kira 22 tahun (1968-1990).
Pak
AR menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1968 setelah di-fait
accomply untuk menjadi Pejabat Ketua PP Muhammadiyah sehubungan dengan
wafatnya K.H. Faqih Usman. Dalam Sidang Tanwir di Ponorogo (Jawa Timur) pada
tahun 1969, akhirnya Pak AR dikukuhkan menjadi Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah sampai Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Makassar pada tahun 1971.
Sejak saat itu ia terpilih secara berturut-turut dalam empat kali Muktamar
Muhammadiyah berikutnya untuk periode 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985 dan
terakhir 1985-1990.
Dari
riwayat perjalanan dakwahnya, dapat ditarik kesimpulan, Pak AR meniti karir di
Muhammadiyah sejak dari bawah, yaitu menjadi anggota, menjadi muballigh yang
ditugaskan di pelosok Sumatera Selatan dan di kampungnya sendiri, sampai pada
pimpinan puncak yakni dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pak
AR menjadi pemimpin setelah melalui proses yang amat panjang.
Melihat
sosok Pak AR, akan didapatkan sebuah cermin, bahwa seorang pemimpin perlu
menghayati bagaimana kehidupan ummat secara riil. Bagaimana derita dan nestapa
ummat di tingkat bawah, bagaimana pahit getir berdakwah dan
menggerakkan organisasi di tingkat Ranting yang jauh dari kota, yang serba
kekurangan prasarana dan sarana. Susah payah, kesulitan-kesulitan, dan suka
duka yang dialami seorang pemimpin yang bekerja di tingkat Ranting dan Cabang
dapat memberi pengalaman yang berharga dan menjadikan seorang pemimpin menjadi
arif dalam mengambil kebijakan dalam memimpin umat.
Pak
AR adalah ulama besar yang berwajah sejuk dan bersahaja. Kesejukannya sebagai
pemimpin ummat Islam bisa dirasakan oleh ummat beragama lain. Ketika menyambut
kunjungan pimpinan Vatikan, Paus Yohanes Paulus II di Yogyakarta, sebenarnya
Pak AR menyampaikan kritikan kepada umat Katholik, tetapi kritik itu
disampaikannya secara halus dan sejuk berupa sebuah surat terbuka.
Dalam
surat itu, Pak AR mengungkapkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah
muslim. Namun, ada hal yang terasa mengganjal bagi umat Islam Indonesia, bahwa
umat Katholik banyak menggunakan kesempatan untuk mempengaruhi ummat Islam yang
masih menderita dan miskin agar mau masuk ke agama Katolik. Mereka diberi uang,
dicukupi kebutuhannya, dibangunkan rumah-rumah sederhana, dipinjami uang untuk
modal dagang, tetapi dengan ajakan agar menjadi umat kristen. Umat Islam
dibujuk dan dirayu untuk pindah agama. Dalam tulisannya kepada Paus Yohanes
Paulus II itu, Pak AR menyatakan bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara
yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh ummat
lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk dalam bahasa Jawa halus, serta
dijiwai semangat toleransi yang tinggi.
Orang
mengatakan bahwa Pak AR adalah penyejuk. Orang selalu mengatakan bahwa
kelebihan Pak AR adalah kesejukan dalam menyampaikan dakwah. Gaya kepemimpinan
Pak AR yang terasa adalah kesejukan.
Semasa
hidupnya Pak AR memberi contoh hidup welas asih dalam ber-Muhammadiyah. Sikap
hidup beliau yang teduh, sejuk, ramah, menyapa siapa saja, sering humor, dan
bersahaja, adalah pantulan dari mutiara terpendam dalam nuraninya. Pak AR
adalah penyebar rasa kasih sayang dalam kehidupan ber-Muhammadiyah, baik dengan
sesama Muslim, bahkan juga non Muslim dalam persaudaraan kemanusiaan yang
luhur. Beliau tidak pernah menyebarkan sikap dan suasana saling membenci,
curiga, iri hati, saling ingin menapikan, apalagi suka menebar aib sesama dalam
kehidupan ber-Muhammadiyah.
Selain
dikenal sebagai seorang mubaligh yang sejuk, ia juga dikenal sebagai penulis
yang produktif. Karya tulisnya banyak dibukukan untuk dijadikan pedoman. Di
antara karya-karyanya ialah Naskah Kesyukuran; Naskah Enthengan, Serat
Kawruh Islam Kawedar; Upaya Mewujudkan Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal;
Pemikiran dan Dakwah Islam; Syahadatain Kawedar; Tanya Jawab Entheng-Enthengan;
Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah; Al-Islam Bagian Pertama;
Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan Tuntunan Sholat Basa Jawi; Kembali kepada
Al-Qur‘an dan Hadis; Chutbah Nikah dan Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan
Muhammadiyah yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-enthengan; Sarono
Entheng-enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah; dan lain-lain.
Ulama
kharismatik ini tidak bersedia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 tahun 1990 di Yogyakarta,
walaupun masih banyak Muktamirin yang mengharapkannya. Ia berharap ada alih
generasi yang sehat dalam Muhammadiyah. Setalah tidak menjabat sebagai Ketua PP
Muhammadiyah, dan menjabat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah, Pak AR masih
aktif melaksanakan kegiatan tabligh ke berbagai tempat. Hingga akhirnya,
penyakit vertigo memaksanya harus beristirahat, sesekali di rumah sakit. Namun,
dalam keadaan demikian, sepertinya beliau tidak mau berhenti. Pak AR wafat
pada 17 Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta pada usia 79 tahun.
Selesai.
Demikianlah BIOGRAFI KH ABDUR ROZAK FACHRUDIN. Semoga bermanfaat
Komentar