LEGENDA RATU
AGUNG DARI PALEMBANG

Kerajaan Palembang pada zaman dahulu diperintah oleh
penguasa yang bergelar Suhunan. Suhunan yang memerintah ketika itu melaksanakan
pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat Palembang
menghormati, mencintai, dan mematuhi titah Suhunan.
Suatu hari Suhunan mendengarakan tibanya pasukan
Belanda untuk menyerang dan menjajah Palembang. Suhunan lantas menyiagakan
segenap kekuatan untuk menghadapinya. Rakyat Palembang pun bersatu padu di
belakang Suhunan. Mereka tidak ingin menjadi jajahan bangsa asing yang terkenal
serakah, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka nyatakan kesanggupan mereka untuk
berkorban jiwa dan raga demi negeri tercinta.
Suhunan menunjuk dan menugaskan tiga kesatria
perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang. Ketiganya
adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya
ternama kesaktian dan keperwiraannya. Suhunan memerintahkan pula bagi mereka
untuk menjadi pengawal pribadinya.
Kerajaan Palembang terus memperkuat pertahanannya.
Berbagai senjata telah disiagakan. Begitu pula dengan meriam-meriam telah
disiapkan menghadap sungai Musi yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk
datangnya pasukan penjajah tersebut.
Benar perkiraan mereka. Pasukan Kompeni Belanda dengan
menaiki kapal-kapal besar memasuki Palembang melalui sungai Musi. Kedatangannya
segera disambut dengan serangan gencar. Peluru-peluru meriam beterbangan ke
arah kapal-kapal pasukan Kompeni Belanda, menimbulkan kerusakan dan kehancuran.
Kian gencar serangan kekuatan Kerajaan Palembang itu hingga pasukan Kompeni
Belanda memutuskan untuk mundur. Bersorak-sorailah kekuatan Kerajaan Palembang
mendapati mundurnya pasukan Kompeni Belanda yang berniat menjajah negeri
mereka. Mereka menyangka pasukan Kompeni Belanda tidak akan berani lagi datang
ke Palembang.
Perkiraan rakyat Palembang meleset, sebulan kemudian
pasukan Kompeni Belanda kembali datang. Jauh lebih banyak kekuatan pasukan
mereka dibandingkan kedatangan mereka yang pertama. Ketika itu kekuatan Kerajaan
Palembang tidak setangguh dan sesiap seperti ketika mereka menghadapi tibanya
pasukan Kompeni Belanda sebulan sebelumnya. Pasukan Kompeni Belanda dapat
memporak-porandakan kekuatan Kerajaan Palembang hingga rakyat Palembang
tercerai- berai dan berlarian untuk menyelamatkan diri.
Suhunan tetap bertahan dan terus menggelorakan
semangat perlawanan. Begitu pula dengan Putri Kembang Mustika, Putri Darah
Putih, dan Putri Iran. Ketiganya tetap berada di dekat Suhunan dan siap
menangkis serangan yang mernbahayakan jiwa penguasa Kerajaan Palembang itu.
Menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda itu Putri
Kembang Mustika menunjukkan kesaktian luar biasanya. Ketika peluru-peluru
meriam datang berdesingan, ia bergerak sigap lagi gesit untuk menangkapnya.
Kesaktian Putri Kembang Mustika itu benar-benar mencengangkan dan membuat
pasukan Kompeni Belanda keheranan. Berulang-ulang peluru meriam ditembakkan,
berulang-ulang pula Putri Kembang Mustika dapat menangkapnya dengan mudah.
Persediaan peluru meriam pasukan Kompeni Belanda terus berkurang karena
peluru-peluru yang mereka tembakkan menjadi sia-sia karena ditangkap Putri
Kembang Mustika. Mereka akhirnya memilih mundur setelah peluru-peluru meriam
mereka habis dan serangan balik kekuatan Kerajaan Palembang kian deras tertuju
kepada mereka.
Suhunan sangat bangga dan kagum mendapati kehebatan
Putri Kembang Mustika. Suhunan kemudian mengangkat Putri Kembang Mustika
menjadi saudara Putri Darah Putih dan menggelari Putri Kembang Mustika dengan
gelar Ratu Agung.
Dua kali berniat menundukkan dan menjajah Palembang
namun dua kali itu pula mereka terpukul mundur membuat pasukan Kompeni Belanda
tidak lagi berniat menyerang Palembang.
Palembang
kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan
kebijaksanaannya yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan. Sayang, tidak
semua orang Palembang senang berada dalam kedamaian itu. Salah seorang dari
mereka yang tidak senang itu bahkan termasuk kerabat dekat Suhunan sendiri,
adik kandung Suhunan sendiri.
Adik
kandung Suhunan berniat menjadi suhunan. Ia lantas merencanakan siasat licik.
Ia mengirimkan sepucuk surat ke Kerajaan Belanda. Disebutkannya kekuatan
Palembang waktu itu tidak lagi tangguh dan perkasa. Jika kekuatan Kerajaan
Belanda menyerang, niscaya Kerajaan Palembang akan dapat ditaklukkan. Terlebih-
Iebih, ia akan membantu memperlemah kekuatan Kerajaan Palembang dari dalam.
Untuk semua itu adik kandung Suhunan meminta imbalan dengan diangkat menjadi
Suhunan.
Kekuatan
Kerajaan Belanda segera disiagakan dan diberangkatkan menuju Palembang. Mereka
telah menyiapkan siasat khusus untuk mengalahkan kekuatan Kerajaan Palembang.
Mereka telah membungkus ringgit-ringgit hingga membentuk bulatan-bulatan
seperti peluru-peluru meriam. Jika meriam ditembakkan, ringgit-ringgit itu
beterbangan. Rakyat Palembang tentu akan berebut ringgit-ringgit itu hingga
mengabaikan pertahanan mereka.
Di
Palembang sendiri adik kandung Suhunan telah pula menyiapkan siasat khusus.
Dengan diam-diam ia membuang peluru-peluru meriam dan menggantinya dengan
buah-buah jeruk yang dibentuknya menyerupai peluru meriam.
Pasukan
Kompeni Belanda akhirnya tiba di Palembang, Suhunan segera menyiagakan
kekuatannya untuk menghadapi dan menghalau. Meriam-meriam disiagakan dan tak
berapa lama kemudian mulai ditembakkan. Amat terperanjat para prajurit penembak
meriam ketika mendapati tembakan mereka tidak berdampak apapun setelah mengena
pada sasaran yang mereka bidik. Baru kemudian mereka dapati kemudian jika
peluru- peluru yang mereka gunakan untuk menembak ternyata hanyalah buah-buah
jeruk!
Adapun
siasat yang diterapkan pasukan Kompeni Belanda berjalan sesuai rencana mereka.
Ketika buntalan-buntalan berisi ringgit-ringgit itu ditembakkan, rakyat berebut
mengambil ringgit-ringgit yang beterbangan dan berjatuhan. Rakyat menjadi
lengah dan tidak membantu para prajurit Kerajaan Palembang yang tengah
menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda. Porak-porandalah akhirnya kekuatan
Kerajaan Palembang.
Menghadapi
keadaan genting tersebut Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri
Iran segera mengungsikan Suhunan.
Mundurnya
Suhunan segera diikuti kerabat dan juga para prajurit Palembang. Istana
kerajaan pun akhirnya kosong ketika pasukan Kerajaan Belanda memasukinya.
Mereka hanya menemukan adik kandung Suhunan yang terlihat gembira menyambut
kedatangan mereka.
Adik
kandung Suhunan menghadap Raja Belanda. Katanya, "Hamba yang telah
mengirim surat kepada Tuan. Hamba juga telah melemahkan pasukan Kerajaan
Palembang dengan mengganti peluru-peluru meriam mereka dengan buah-buah jeruk.
Bukankah serangan mereka menjadi sia-sia dan tidak berarti? Bukankah pasukan
Belanda akhirnya dapat mengalahkan kekuatan Palembang dengan mudah? Itu semua
karena jerih payah hamba, Tuan. Oleh karena itu hendaklah Tuan mengangkat hamba
menjadi Suhunan yang baru."
Raja
Belanda mencibirkan bibirnya. "Engkau telah nyata-nyata mengkhianati
saudara kandung dan juga negerimu sendiri! Engkau tega hati untuk melakukannya
hanya karena keserakahan dan keinginanmu semata-mata untuk berkuasa. Maka, jika
engkau kuangkat menjadi Suhunan, niscaya engkau pun pasti akan tega hati untuk
mengkhianatiku di kemudian hari!"
Mati-matian
adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya untuk senantiasa setia terhadap
Raja Belanda.
"Sifatmu
bukan menunjukkan sifat orang yang setia. Engkau bersifat pengkhianat. Seorang
Suhunan tidak seharusnya bersifat khianat seperti dirimu itu!" jawab Raja
Belanda.
Alangkah
kecewanya adik kandung Suhunan mendengar jawaban Raja Belanda. Sama sekali ia
tidak menduga mendapat jawaban seperti itu dari Raja Belanda. Musnahlah
harapannya untuk menjadi Suhunan. Ia terjepit dan merasa sama sekali tidak
berdaya. Terlebih-lebih ketika Raja Belanda memerintahkan prajuritnya untuk
menangkap dirinya!
Adik
kandung Suhunan yang mengkhianati kakak kandung dan juga negerinya itu pun
akhirnya menemui kematiannya setelah dilaksanakan hukuman pancung pada dirinya.
Sementara
Ratu Agung sendiri kembali ke kampung halamannya di daerah Sukadana setelah
Suhunan memberinya izin. Warga Sukadana sangat menghormati sosok perempuan
pemberani lagi sakti itu. Ratu Agung terus menetap di kampung halamannya itu
hingga akhirnya menutup mata. Kepergiannya diratapi orang-orang yang mengetahui
sepak terjangnya yang gagah berani ketika membela Palembang dari serangan
pasukan Kompeni Belanda.
“Pesan
moral dari dongeng cerita rakyat nusantara : kisah ratu agung adalah bersifat
khianat seharusnya kita hindari karena akan merugikan diri kita sendiri di
kemudian hari. Nama seorang pengkhianat akan dikenang buruk selama-lamanya. Nama
pahlawan akan dikenang balk selama lamanya.”
Selesai.
Demikianlah LEGENDA RATU AGUNG DARI PALEMBANG. Semoga bermanfaat
Komentar