DONGENG DUA
PANGERAN

Tersebutlah dua pangeran yang sangat mencintai
ayahanda mereka. Keduanya tengah menuntut ilmu sebagai bekal untuk kehidupan
mereka selanjutnya, termasuk melanjutkan takhta ayahandanya. Setelah
mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup, kedua pangeran itu pun
kembali ke kerajaan. Ketika itu Pangeran Sulung telah mempunyai keterampilan
memanah. Ia sangat mahir memanah, bidikan anak panahnya hampir tidak pernah
meleset dari sasaran yang ditujunya. Pangeran Bungsu piawai melukis. Lukisan
buatan tangannya sangat indah, mirip dengan sesuatu yang menjadi objek
lukisannya.
Ketika dua pangeran itu tiba di istana kerajaannya,
mereka sangat berduka. Ayahanda mereka ternyata telah wafat. Pemerintahan
kerajaan untuk sementara dijalankan oleh Menteri Kerajaan. Sebelum wafat, Sang
Raja telah berwasiat agar seluruh harta kekayaannya dibagi menjadi dua untuk
kedua anaknya. Satu benda sangat berharga peninggalan Sang Raja, yakni cincin
ajaib, akan diberikan kepada salah satu dari dua anaknya itu yang paling
mencintainya.
Menteri Kerajaan lantas menjalankan wasiat Sang Raja
setelah kedua pangeran itu tiba di istana kerajaan. Harta kekayaan Sang Raja
yang banyak itu dibagi dua. Setengah bagian untuk Pangeran Sulung dan setengah
bagian lainnya untuk Pangeran Bungsu. Adapun cincin ajaib peninggalan Sang Raja
akan diberikan kepada salah satu dari dua pangeran itu melalui ujian
berdasarkan kepandaian dan keterampilan mereka.
Ujian pertama untuk kedua anak raja itu adalah memanah
burung. Ujian itu dapat dilakukan oleh kedua pangeran itu dengan sangat baik.
Masing-masing anak Sang Raja itu dapat memanah tepat pada sasaran yang
ditentukan.
Pangeran bungsu kemudian diminta melukis wajah
ayahandanya. Sangat mirip lukisan itu dengan wajah mendiang Sang Raja setelah
lukisan itu selesai. Menteri Kerajaan lantas meletakkan lukisan tersebut di
suatu tempat.
"Silakan Pangeran berdua memanah tepat pada
lukisan bola mata lukisan mendiang Baginda Raja itu," kata Menteri
Kerajaan.
Tanpa ragu-ragu Pangeran Sulung langsung mengarahkan
anak panahnya pada lukisan bola mata kiri ayahandanya. Mengena tepat bidikan
anak panahnya.
Ketika giliran Pangeran Bungsu untuk memanah tiba,
Pangeran Bungsu menyatakan tidak sanggup untuk melakukannya. Katanya memberi
alasan, "Meski itu hanya wajah Ayahanda, namun aku tidak sanggup untuk
memanah gambar bola mata Ayahanda."
Menteri Kerajaan lantas memutuskan Pangeran Bungsu
yang berhak mendapatkan cincin ajaib peninggalan Sang Raja. Pangeran Bungsu
dinilai lebih mencintai ayahandanya dibandingkan kakaknya. Pangeran Sulung
dapat menerima keputusan Menteri Kerajaan itu.
Tidak berapa lama setelah kedua pangeran itu tinggal
kembali di istana kerajaan, mendadak terjadi pemberontakan dan huru-hara besar.
Kedua pangeran itu terpaksa harus melarikan diri dari istana kerajaan setelah
kekuatan pemberontak dapat menguasai istana kerajaan. Kedua pangeran itu
terusir dan sulit bagi mereka kembali lagi ke istana kerajaan. Dalam
pelariannya, kedua pangeran itu akhirnya hidup seperti rakyat kebanyakan.
Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana. Beruntung, harta peninggalan
Sang Raja yang banyak itu mereka bawa turut serta dalam pelarian.
Pangeran Sulung kemudian menjadi pedagang dan Pangeran
Bungsu menjadi petani. Keduanya rapat-rapat menutup jati diri mereka yang
sesungguhnya agar tidak tertangkap kekuatan pemberontak.
Syandan, kedua pangeran itu teringat pada pesan
ayahanda mereka. Ketika itu Sang Raja berpesan, "Jika kalian ingin
berhasil dalam kehidupan kalian, maka hendaklah kalian makan lauk-pauk yang
kepalanya lebih dari seratus buah jumlahnya. Selain itu, jika kalian berangkat
dan pulang dari tempat kerja atau usaha, hendaklah kalian jangan terkena sinar
matahari."
Pesan Sang Raja itu lantas dijalankan kedua pangeran
tersebut.
Pangeran Sulung memakan Iebih dari seratus ekor kepala
hewan yang berbeda-beda jenisnya setiap kali ia makan. Ia memakan masakan
kepala kerbau, sapi, kambing, ayam, bebek, dan kepala hewan-hewan lainnya. Ia
merasa telah menjalankan pesan ayahandanya. Jalan menuju tempat usahanya juga
diberinya atap sehingga ia tidak terkena sinar matahari, baik ketika berangkat
maupun pulang. Begitu besar pengeluarannya sehari-hari hingga mengakibatkan ia
bangkrut dan akhirnya jatuh miskin.
Berbeda dengan kakaknya, Pangeran Bungsu memakan kepala
ikan-ikan teri dengan jumlah Iebih dari seratus. Ketika berangkat ke sawah ia
melakukannya pada waktu pagi hari sebelum matahari terbit. Ia pulang dari sawah
setelah matahari terbenam. Karena sedikit pengeluarannya dan banyak hasil yang
didapatkannya, harta miliknya kian bertambah-tambah. Pangeran Bungsu pun
menjadi kaya raya.
Pangeran Sulung yang jatuh miskin selalu meminta bantuan
adiknya. Mengingat tetap juga besar pengeluarannya karena salah mengartikan
pesan ayahandanya, Pangeran Bungsu akhirnya bangkrut dan jatuh miskin pula
setelah berusaha menolong kakaknya.
Pada suatu malam Pangeran Bungsu bermimpi. Ayahandanya datang
dalam impiannya dan memintanya untuk pergi ke arah matahari terbit dan ia tidak
diperbolehkan kembali sebelum berhasil dalam usahanya. Tanpa menunggu waktu
lagi, Pangeran Bungsu Iangsung berangkat menuju arah timur setelah berpamitan
kepada kakaknya.
Pangeran Bungsu terus berjalan ke arah timur hingga tibalah
ia di sebuah hutan yang terkenal sangat angker. Hutan itu menjadi wilayah
kekuasaan Raja Jin. Ketika Pangeran Bungsu memasuki hutan angker, Raja Jin
Iangsung menangkap dan hendak memangsa hatinya. Meski ketakutan, Pangeran
Bungsu berujar pada Raja Jin, "Jika engkau hendak memangsaku, maka
tunggulah beberapa waktu lagi hingga hatiku membesar."
Raja Jin menuruti permintaan Pangeran Bungsu.
"Baik," katanya, "Kuberi waktu tiga hari untukmu agar hatimu
membesar terlebih dahulu hingga aku dapat memangsanya."
Pangeran Bungsu dikurung dalam sebuah penjara agar tidak
melarikan diri. Selama dalam kurungan itu Pangeran Bungsu terus mencari cara
untuk mengalahkan Raja Jin yang gemar memangsa hati manusia itu.
Tiga hari kemudian Raja Jin menagih janji. Ia akan memangsa
hati Pangeran Bungsu. Namun Pangeran Bungsu menyatakan jika hatinya belum
membesar. "Jika engkau mau," ujar Pangeran Bungsu kepada Raja Jin,
"aku akan mencarikan hati yang Iebih besar dibandingkan hatiku. Engkau
tentu akan puas untuk menyantapnya."
Raja Jin sangat gembira mendengar janji Pangeran Bungsu.
"Jika engkau dapat membawakan hati yang Iebih besar dari hatimu, aku akan
memberimu barang-barang berharga milikku."
Pangeran Bungsu mencari cara untuk melenyapkan Raja Jin yang
sangat jahat itu. Didapatkannya cara itu. Ia lalu membuat lem dari umbi tanaman
yang ditemukannya di hutan itu. Pangeran Bungsu membuat lem dalam jumlah yang
banyak. Dibawanya satu panci lem ketika ia kembali menemui Raja Jin.
"Wahai Raja Jin, aku membawakan obat untukrnu;' kata Pangeran Bungsu.
"Obat?"
"Benar, Raja Jin," Pangeran Bungsu menunjukkan
panci dan membuka tutupnya. "Ini obat yang dapat membuat tubuhmu menjadi
kuat perkasa. Selain itu, obat ini juga membuatmu awet muda lagi panjang
umur."
Raja Jin sangat gembira mendengar penjelasan Pangeran Bungsu.
Tanpa ragu-ragu lagi ia Iangsung mengambil panci berisi lem itu dan Iangsung
menelannya sekaligus. Raja Jin meronta-ronta karena tenggorokannya tersumbat
lem. Ia berusaha mengeluarkan kembali lem yang ditelannya, namun tetap lem itu
menyumbat tenggorokannya. Tubuhnya limbung dan terjatuhlah ia dengan kepala
membentur batu besar. Raja Jin itu pun tewas!
Pangeran Bungsu tidak hanya terbebas dari kekejaman Raja Jin,
melainkan juga mendapatkan banyak barang berharga milik Raja Jin. Dibawanya
pulang kembali barang-barang berharga itu.
Sepeninggalnya, kakaknya ternyata tidak bekerja dan terus
menggunakan harta kekayaan Pangeran Bungsu yang tersisa untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya yang boros. Akibatnya harta Pangeran Bungsu habis, hingga
rumah milik Pangeran Bungsu pun dijualnya. Pangeran Sulung bahkan menjadi
pengemis.
Pangeran Bungsu terkejut saat mengetahui rumahnya telah
dijual dan kakaknya menjadi pengemis. Dengan harta yang dibawanya, Pangeran
Bungsu lantas membeli rumah baru. Dicarinya kakaknya dan diajaknya pulang
kembali. Ia memaafkan kesalahan kakaknya. Pangeran Bungsu tetap sayang dengan
kakaknya, betapa pun besar kesalahannya terhadapnya. Ia merasa, sebagai saudara
hendaknya saling tolong- menolong dan mengingatkan jika saudaranya itu
melakukan kesalahan.
Pangeran Sulung menjadi sadar. Ia meniru sikap hemat dan
rajin yang dicontohkan adiknya. Keduanya pun akhirnya menjadi orang-orang kaya
lagi terpandang di desanya. Keduanya hidup rukun dan berbahagia meski tidak
harus tinggal di istana kerajaan dan juga tidak harus menjadi raja pengganti
ayahanda mereka.
Pesan moral dari kumpulan cerita anak anak : kisah dua
pangeran adalah berhematlah dalam kehidupan karena hemat adalah pangkal kaya
dan boros akan menuntun ke jurang kemiskinan dan kehancuran.
Selesai.
Demikianlah DONGENG DUA PANGERAN. Semoga bermanfaat
Komentar