TUTORIAL CARA RESET PRINTER CANON IP1980 LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA

TUTORIAL CARA RESET PRINTER CANON IP1980 LENGKAP BESERTA GAMBAR DAN PENJELASANNYA Bagi Anda yang mempunyai printer Canon IP 1980, mungkin suatu saat akan mengalami pinter yang Anda pakai tidak bisa langsung mencetak dokumen, lampu indikator berkelap-kelip dan muncul pesan “The ink absorber is almost full”. Solusi sementara yang mungkin Anda lakukan adalah menekan tombol RESUME seperti yang diperintahkan dalam pesan tersebut. Untuk sementara Anda bisa mencetak dokumen, tetapi kejadian ini terus berulang dan bahkan mungkin sampai printer tersebut hanya menampilkan lampu indikator yang nge-blink saja, tidak bisa ngeprint sama sekali. Kondisi tersebut sebenarnya umum terjadi pada printer inkjet. Pada printer tersebut terdapat tempat pembuangan tinta atau biasa disebut waste ink tank, didalam tempat pembuangan ini terdapat bahan semacam busa (ink absorber) untuk menyerap tinta buangan dari Catridge, misalnya ketika printer melakukan proses cleaning head. Untuk mencegah melube...

LEGENDA SITUS PANEMBAHAN PASIR PARI DESA BOJA KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP

LEGENDA SITUS PANEMBAHAN PASIR PARI DESA BOJA
KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP



        Masyarakat Desa Boja mayoritas sudah tidak asing lagi dengan nama Raden Arsantaka. Raden Arsantaka terlahir dengan nama Arsakusuma, yang merupakan putera Adipati Onje II. Dikatakan Raden Arsantaka adalah keturunan dari Keraton Surakarta atau yang sekarang disebut Keraton Solo. Raden Arsantaka melewati masa mudanya dengan mengembara hingga ke Desa Boja. Raden Arsantaka yang diberi tugas oleh Ayahandanya untuk datang dan tinggal di Desa Boja, karena pada waktu itu kehidupan di Desa Boja tidak bisa berkembang. Oleh sebab itu, datanglah beliau Raden Arsantaka yang konon pada waktu itu sebelum Raden Arsantaka datang ke Desa Boja, di Desa Boja hanya ada 3 (tiga) orang yaitu Mbah Dalem Arsa Wangsa, Bojawati (Istri) dan Ibu Dalem Rum Siti (Anak).

        Pada saat itu datanglah Raden Arsantaka dan beliau menikah dengan Rum Siti. Setelah menikah dengan Rum Siti perkembangan di Desa Boja mulai berkembang pesat dan perkembangan kehidupan di Desa Boja semakin bertambah, lalu Mbah Dalem Arsa Wangsa dijadikan kepala desa. Selama menjadi kepala desa, Mbah Dalem Arsa Wangsa dalam kurun waktu 1 (satu) bulan sekali biasanya berkunjung (sowan) ke Keraton Solo. Dikarenakan Mbah Dalem Arsa Wangsa dalam kurun waktu 1 (satu) tahun tidak pernah berkunjung (sowan), akhirnya pihak Keraton Solo mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan (surat undangan) kepada Mbah Dalem Arsa Wangsa dan beliaupun sangat terkejut dengan kedatangan utusan dari pihak Keraton Solo. Merasa beliau salah dan takut maka Mbah Dalem Arsa Wangsa mengutus Raden Arsantaka untuk datang ke Keraton Solo.

        Ternyata setelah Raden Arsantaka datang ke Keraton Solo, beliaupun menjelaskan maksud dan tujuan Mbah Dalem Arsa Wangsa tidak bisa hadir ke Keraton Solo. Kemudian Raden Arsantaka setelah datang ke Keraton Solo, mereka pun berbincang-bincang. Setelah berbincang-bincang mereka selesai, dari pihak keraton Solo pun menjelaskan maksud dan tujuan mengundang Mbah Dalem Arsa Wangsa akan diberikan sebuah gelar atau kehormatan untuk beliau. Namun karena beliau tidak hadir akhirnya gelar atau kehormatan tersebut diberikan kepada Raden Arsantaka dengan gelar “Ngabei” (Camat) dan akhirnya Raden Arsantaka terkenal dengan nama Raden Ngabei Arsantaka.

        Sebelum Raden Ngabei Arsantaka wafat beliau berpesan kepada istrinya pesan beliau adalah ”Kalau saya wafat tolong makamkan di Pasir Pari” yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Paninggaran Desa Boja Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap. Karena pada masa itu tugasnya untuk menjaga Desa Boja (Ngabei) dan ”Barang siapa yang datang ke makam saya (Raden Ngabei Arsantaka) di Pasir Pari kemudian mendo’akan untuk Desa Boja dan pribadinya maka akan mendapatkan keberkahan” tutur beliau. Kemudian Rum Siti (Istri Raden Ngabei Arsantaka) pun wafat dan dimakamkan di samping beliau di Pasir Pari.

        Pada waktu itu agama Islam sudah masuk ke Desa Boja yang dipimpin oleh Syeikh Arya Pamot yang masih keturunan Syeikh Sarip Hidayatullah dari Cirebon dan beliau Syeikh Arya Pamot meninggal juga kemudian dimakamkan di Pasir Pari. Syeikh Arya Pamot mempunyai murid yang bernama Wana Wacana yang artinya selalu punya rencana. Wana Wacana pun meninggal di Desa Boja dan dimakamkan di Pasir Pari bersamaan dengan para leluhur yang lain.









        Berhubung makam-makam itu harus dirawat, maka masyarakat Desa Boja mengadakan musyawarah untuk menunjuk juru rawat makam dan pada waktu itu oleh masyarakat Desa Boja di beri nama ”Pasarean Pasir Pari” dengan juru rawat yaitu Sukur, Rudiyanto, dan Cakis. Hingga saat ini masyarakat Desa Boja melakukan ziarah ke Panembahan Pasir Pari setiap malam Jum’at untuk mendo’akan para leluhur. Sehingga dengan adanya gelar (Ngabei) tersebut konon katanya masyarakat Desa Boja meyakini suatu saat Desa Boja akan menjadi Kecamatan.

Selesai. 

Demikianlah LEGENDA SITUS PANEMBAHAN PASIR PARI DESA BOJA KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP. Semoga bermanfaat


Komentar